Komunikasi Bukan Teka-teki

Bayangkan Anda sedang sibuk. Lalu ada telepon masuk. Nomornya tidak familiar. Tapi tetap Anda angkat. Bisa jadi itu penting karena terjadi saat jam kantor.

Ternyata?

Penelepon : “Halo. Betul ini dengan (nama Anda)? ”

Anda : “Halo. Ya, betul ini dengan saya sendiri. Dengan siapa saya berbicara?”

Penelpon : “Ah, kok lupa sih dengan suaraku? Kita kan sudah lama kenal.”

Anda (sambil berusaha keras mengingat-ingat) : “Aduh, saya benar-benar lupa. Maaf ya, ini dengan siapa?”

Penelpon (semakin sok misterius) : “Tetap tidak ingat? Padahal dulu kita dekat lho….”

Anda (melirik jam karena sebentar lagi rapat dengan atasan dimulai) : “Sorry, saya sedang sibuk.” Sambungan pun segera Anda putus.

Orang iseng, begitu pasti pikir Anda. Siapa sangka, saat rapat, penelepon tadi kembali menghubungi Anda. Tapi kali ini lewat pesan singkat. Begini pesannya : “Aku ini temanmu di sekolah menengah dulu. Tahu nomor kamu dari si Fulan (nama saudara Anda).” Anda tertegun. Apa iya informasi ini bisa dipercaya sepenuhnya?

Berhubung urusan rapat lebih menyita perhatian dan konsentrasi, Anda pun mematikan sementara smartphone Anda. Tapi, sebelumnya Anda masih sempat mengirim pesan singkat ke saudara Anda untuk konfirmasi ulang kebenaran berita dari si penelepon.

Seusai rapat, Anda menyalakan lagi smartphone. Si penelepon misterius tadi kembali mengirim pesan. Namun kali ini dia sedikit emosi karena Anda tidak membalas pesan sebelumnya. Ini ungkapan rasa kesalnya via pesan singkat : “Halooo! Ini betul (nama Anda) bukan sih?”

Bukannya tambah bersimpati, Anda malah jadi keki. Langsung Anda blok nomor telepon si penelepon sok misterius (atau sok terkenal?) itu. Sempat terlintas rasa tak enak di hati Anda karena (seolah) memutus silaturahmi. Tapi, Anda juga ogah kelak terus-menerus diganggu dirinya.

Tak lama kemudian, balasan pesan saudara Anda datang. Ternyata tak ada teman sekolah Anda yang pernah menghubunginya belakangan ini, apalagi sampai meminta nomor telepon. Wah, tepat sudah keputusan Anda dengan memblokir nomor penelepon minim etika yang tak mau menyebut identitasnya tersebut.

Sejatinya komunikasi memang berfungsi untuk saling memahami. Wajarlah komunikasi dianggap sebagai kunci utama keberhasilan hubungan profesional maupun personal. Tak ada yang mampu membaca persis jalan pikiran orang lain. Menebak isi kepala orang mungkin ya, masih bisa dari mengamati bahasa tubuhnya.

Tapi, peluang kebenarannya 50 : 50. Tambahan pula, sulit timbul rasa saling mengerti jika komunikasi lebih didominasi oleh misteri. Tak terkecuali dalam komunikasi tak langsung atau via alat komunikasi.

Etikanya jika kita baru pertama kali atau sudah lama tidak berkomunikasi – lebih dari 6 bulan – di awal percakapan (jika via telepon) atau kalimat (jika via pesan tertulis), setelah salam pembuka, identitas terutama nama kita harus dicantumkan. Tujuannya agar sang penerima telepon atau pesan tidak sampai repot menebak-nebak jati diri Anda.

Terlebih lagi jika komunikasi terjadi di jam-jam sibuk. Semua orang pasti menginginkan komunikasi yang efektif dan efisien untuk menghindari salah paham.

Eh, tapi bukan berarti di waktu luang, lantas boleh seenaknya berkomunikasi. Pernah mendengar ungkapan bahwa “Kesan pertama menentukan tindakan kedua dan selanjutnya?”

Komunikasi baru bisa berjalan lancar ketika kedua belah pihak yang terlibat terlebih dahulu saling menghormati, termasuk memperkenalkan jati diri. Bukankah tak kenal maka tak sayang apalagi sampai bisa muncul rasa percaya.

Pastinya komunikasi bukan teka-teki yang membuat seseorang frustasi. Jelas lebih nyaman berkomunikasi dengan orang yang mampu mengungkapkan dirinya dengan kalimat yang lugas (mudah dimengerti), cerdas (berkualitas bahasa dan juga isinya), serta bernas (bukan basa-basi ke sana ke mari tanpa tujuan pasti).

Ketidakjelasan dalam berkomunikasi berpotensi tinggi menimbulkan rasa curiga dan buruk sangka karena minimnya rasa percaya. Kalau sudah begitu, sulit pastinya menjalin relasi seperti yang diharapkan.

Komunikasi dapat terjadi ketika kedua belah pihak sama-sama ingin saling mengerti dan memahami. Jikalau ingin bermain teka-teki, pastikan pasangan komunikasi Anda juga bersedia diajak bermisterius ria bersama Anda. Jikalau tidak, baiknya gunakan bahasa dan praktekkan etika berkomunikasi yang sewajarnya dan manusiawi.

Gagal berkomunikasi sama artinya menutup peluang meraih kesuksesan dan kemitraan. Jadi, pastikan kita selalu mampu berkomunikasi dengan baik dan benar tanpa harus diperkaya dengan drama apalagi dusta yang tak berguna. Salam komunikasi positif dan efektif.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s