Orang Tua Kaya, Anak (Pasti) Foya-foya?

Dulu saya sempat mengira anak orang kaya kerjanya bersantai saja. Buat apa kerja keras? Toh ada ‘Bank Ayah dan Bunda’.

Barulah setelah setahun di kampus yang tenar dengan tagline We are the yellow jackets“, saya menyadari, pandangan saya itu salah. Besar pula salahnya. Begene neh yang sok-you-know hehehe….

Memang ada anak orang kaya yang hobinya berpesta-pora. Mereka itulah yang kerap menghiasi ruang berita di media massa. Terus, bagaimana dengan anak orang kaya yang bekerja luar biasa kerasnya?

Ternyata, kesibukan mereka bekerja itulah yang membuat publik – khususnya media – sulit melacak keberadaan mereka itu. Lha, bagaimana akan terlihat kaya jika mereka (tetap) hidup sederhana?

Saya pernah membaca resep hidup tenang ala Orang Kaya Lama (The Old Money). Awalnya, saya kira, tumpukan materi yang menjadi kuncinya. Katanya, uang bisa membuat hidup lebih senang. Eh, faktanya?

“Do not tell others. Do not show your wealth. Ultimately, do not spend it lavishly.”

Wow! Intinya “lebih baik diam-diam jadi orang kaya daripada (terlihat) kaya tapi banyak hutangnya.” Buah apel memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Sekaya apapun orang tuanya, seorang anak PASTI bisa hidup hemat sesuai contoh NYATA dari orang tuanya.

Saya mendapati sendiri, orang tua memang harus kompak saat mengasuh buah hati mereka. Apalagi jika berhubungan dengan keuangan. Parenting is all about team work.

Banyak terjadi, ayah sibuk bekerja, lalu ibu yang tidak bekerja memanjakan anak-anaknya dengan kucuran uang. Saat sang ayah pensiun atau meninggal dunia, sang ibu kelimpungan sendirian. Efeknya para anak tak bisa mandiri karena terbiasa disuapi selama ini.

Lebih berbahaya lagi saat orang tua keduanya sama-sama sibuk bekerja. Pengasuhan anak dititipkan ke para pengasuh. Namanya juga pengasuh. Setegas apapun mereka, tetap ‘anak sang tuan dan nyonya’ yang berkuasa. Ujung-ujungnya, sebagai kompensasi dari sibuk bekerja, anak dihadiahi materi tiada henti. Pengasuh jelas hanya bisa mengamati.

Makanya saya selalu salut dengan orang tua berharta yang mampu mendidik anak mereka untuk senantiasa berkarya dan bekerja penuh semangat.

Tanpa terlalu mengandalkan kekayaan orang tuanya, mereka juga dapat berprestasi sesuai bakat, minat, dan kemampuannya. Malahan, para anak orang kaya tersebut bisa lepas dari bayang-bayang kebesaran orang tuanya.

Bukan apa-apa. Saya selalu ingat, nasihat Ayah saya : “Uang bisa hilang dalam sekejap pandang. Tapi, dengan ilmu, uang bisa datang dan terus berkembang.” Ya, orang pintar dan memiliki kompetensi bisa menjadi kaya. Sedangkan orang kaya belum tentu termasuk orang cerdas maupun memiliki keterampilan.

Mumpung masih tahun baru, yuk ubah bersama mind-set kita tentang harta. Sederhananya, orang kaya bukan hanya yang banyak hartanya. Orang kaya yang sebenarnya adalah yang hartanya berkah sehingga bermanfaat serta membawa kebaikan bagi banyak orang dan lingkungan sekitarnya. Salam hidup sederhana.

 

Advertisements
This entry was published on January 5, 2016 at 2:22 pm. It’s filed under Curhat, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: