Teman dan Kesulitan

Friend in need is friend indeed. Teman sejati itu baru terlihat rupanya saat ada masalah menghampiri. Kesimpulan itu saya peroleh setelah mencermati pertemanan saya, khususnya 7 tahun terakhir. Seleksi pertemanan itu memang nyata dan ada ternyata ūüėģ

Saya sendiri¬†enggak¬†PD mengakui diri sebagai teman yang ideal. Ada saatnya sisi¬†nyebelin¬†saya keluar.¬†Let say, it is my “emotional blackmail moment”¬†huehehe..¬†Passive-aggresive, sounds familiar?

Ada juga¬†sih¬†masanya saya bisa jadi teman yang mirip malaikat plus bidadari. Maunya hahaha… Eh, tapi ini memang serius¬†lho¬†#Humblebragging

Setelah saya cermati lagi, teman yang lebih berkesan buat saya¬†tuh¬†adalah teman yang tetap bisa jadi teman saya sekalipun mereka tahu,¬†I have nothing to offer. Sederhananya, pertemanan itu bisa terjalin karena kecocokan, bukan karena “ada udang di balik bakwan”, oops! Ada udang di balik batu hihihi…

Saya percaya, hidup seseorang¬†more or less seperti cermin. Dia baik dan tulus hatinya, begitu pula lingkaran terdekatnya, termasuk temannya. Dia pengusaha jujur, idealis, & shalih, sekelilingnya pun akan serupa.¬†Well, ini¬†kok¬†jadi menjurus ke “pengusaha tertentu” yaaaa hehehe #WalkTheTalk

So, bagi yang masih bingung saat membedakan antara ‘teman setia’ dengan ‘teman ada maunya’, percaya dan tunggu¬†deh… Time will tell, especially in our not-so-glamorous life period¬†*ChooseOurFriendWisely

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s