Bijak Berprioritas karena Waktu Terbatas

Pernah merasakan pengen mengerjakan banyak pekerjaan, eh yang ada malah keteteran? Apalagi di era media sosial begini. (Hampir) setiap orang berlomba-lomba update kegiatan terbaru mereka. Intinya, orang (sok) sibuk itu bisa tambah eksis dengan adanya situs jejaring sosial. Ini masih bicara soal kuantitas karya ya, belum kualitasnya.

Entah berapa kali, saya tergoda dan sempat juga terjebak untuk mengiyakan setiap tawaran yang datang. Enggak selalu berurusan dengan pekerjaan memang. Ada juga yang termasuk kegiatan sosial, acara keluarga maupun pertemanan, dan lainnya. Sering pula dalam satu waktu, beberapa acara bentrok. Ketika masih berdekatan lokasinya, saya usahakan bisa datang ke semuanya. Saat berjauhan, saya pilih yang lebih tinggi nilai skala prioritasnya ☺

Pastinya skala prioritas itu tidak melulu soal materi. Di satu hari, ada rekan kerja sekaligus teman baik saya yang menikah. Padahal di tempat lain, ada blogging event yang lumayanlah nilai nominal uangnya jika didatangi dalam waktu yang bersamaan. Nah, dilematis kan? 😂

Syukur Alhamdulillah, saya masih ingat. Pernikahan teman saya itu kan momennya sekali seumur hidup, Amin. Sedangkan acara blogging yang menarik itu masih banyaklah kesempatan selanjutnya. Rezeki enggak akan ke mana ini hehehe…

Semakin ke sini, saya semakin sadar, Allah swt tambah sering memberikan saya pilihan prioritas yang lumayan menantang. Semakin menantang saat harus memilih antara hal yang tampak nyata (tangible things) dengan yang kasat mata (intangible things). Contohnya seperti tadi di atas : Materi vs Relasi.

Pengalaman hidup saya (yang belum seberapa ini) dan juga orang lain menunjukkan kata kunci pemilihannya adalah “manfaat jangka panjang (long term benefit).” 

Kejadian nyata yang paling sederhana dan sering saya temui dalam keseharian adalah penjual yang ingin langsung untung besar di awal dengan penjual yang sabar meraih untung sedikit demi sedikit sambil terus menaikkan kualitas usahanya. Sekilas penjual yang sudah kemaruk uang itu terlihat lebih untung di awal daripada yang berprinsip “asal modal usaha terus berputar.” Namun, pada akhirnya, jika tanpa diiringi peningkatan kualitas produk maupun jasa, penjual tipe kedualah yang akan lebih bertahan lama. Ingat perlombaan lari antara kelinci dan kura-kura?🐢🐇

Prioritas ini semakin penting dan strategis ketika seseorang sudah memiliki buah hati. Seorang sahabat dan senior saya di tempat bekerja berujar, “Jadi orang tua itu harus siap perhatian full time, khususnya waktu anak masih berusia sekolah. Kalau fokus dan prioritas utama orang tua adalah kerja, siap-siap saja orang tua yang sudah lanjut usia kelak diabaikan anaknya ketika mereka sudah dewasa dan bekerja karena itulah yang telah dicontohkan orang tuanya dulu.” We surely get what we give.🎁⌚

Mbak senior saya itu juga mengingatkan saya sebagai sesama wanita. “Bagi anak kecil, orang tuanya – terutama ibunya – adalah dunianya. Kebayang kan betapa sedih dan kecewanya sang anak saat orang tuanya tidak memperhatikannya? Jangan heran waktu remaja dan dewasanya, anak jadi lebih betah di luar rumah dan memilih berlama-lama dengan temannya daripada orang tuanya.”

Pasti itu pula yang membuat banyak orang yang bisa mendapat gaji atau materi lebih “wah” malah memilih pekerjaan yang (terlihat) lebih sederhana asal bisa lebih sering bersama keluarganya. Namun, ketika keluarganya bahagia, pekerjaan pasti akan terasa lebih menyenangkan sehingga mengundang kesuksesan. Semuanya berawal dari prioritas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s