Empat Windu Universitas Terbuka, Kuliah Memang Hak Semuanya

logo-ut-small-transparent

Silakan klik gambar di atas atau link berikut ini : http://www.ut.ac.id/  untuk informasi  lengkap dan detil tentang Universitas Terbuka/UT, PTN ke-45 di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1984.

            Pernahkah Anda mengamati riwayat pendidikan leluhur Anda? Umumnya sih, semakin ke atas silsilah keluarganya, semakin rendah tingkat pendidikannya.  Jadi misalnya sang buyut tamat SMP, sang kakek lulusan SMU, sang bapak alumni S1, cucu bergelar master (S2), dan cicit yang menjadi doktor (S3).

Saya pernah bertanya ke almarhum kakek dari pihak Ibu.  Waktu itu saya masih SD kelas 5.  Pekerjaan beliau adalah penghulu pada sebuah kota kecil di Jawa Tengah.  “Mbah, gelarnya apa?” tanya saya polos khas anak SD.  “Ya, ndak ada gelar.  Lha wong, Simbah kan lulusan SMP,” begitu jawab beliau.  Sambungnya lagi, “Zaman londo (Belanda dalam bahasa Jawa) dulu sekolah itu susah.  Zaman sekarang, mau jadi penghulu ya harus kuliah dulu.”

Perkataan kakek saya itu memang tepat sekali.  Salah seorang adik Ibu atau paman saya, kini meneruskan profesi kakek sebagai penghulu di daerah yang sama.  Bukan hanya bergelar S1, paman saya itu bahkan sudah lulus S2 awal tahun ini.  Kondisi saat ini tentunya sangat kontras dengan keadaan Indonesia di akhir tahun 50-an (tepatnya tahun 1959), periode ketika kakek diangkat menjadi penghulu.  Lulus SMP pun bisa dilantik sebagai pamong praja.

Tian-Belawati

Rektor UT Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D., salah satu dari sedikit rektor wanita di Indonesia (Sumber Ilustrasi 1 : http://swa.co.id/swa/business-update/universitas-terbuka/wahana-pendidikan-ideal-bagi-para-profesional)

            Di awal kuliah S1 sekitar satu dekade lalu, saya mengira hanya siswa yang baru lulus SMU saja yang bisa kuliah.  Atau maksimal lulus 2 tahun dari SMU jika ingin kuliah di kampus negeri (Perguruan Tinggi Negeri/PTN) seperti yang saya ketahui di PTN tempat saya berkuliah di Kota Hujan.  Maklum, waktu itu kan belum booming media sosial seperti sekarang jadi mahasiswa belum atau tidak terlalu update info terkini hehehe….

Nah, saat mengurus skripsi, saya jadi sering bolak-balik berurusan dengan seorang staf administrasi kampus yang usianya sekitar 10 tahun lebih tua.  Sebut saja namanya Mas Budi.  Jadi, usianya waktu itu sekitar 30-an.  Beliau staf yang sangat rajin dan dapat diandalkan oleh mahasiswa, dosen, dan sesama staf.  Dia selalu datang paling awal di kampus tetapi pulangnya pasti yang terakhir.  Pokoknya, karyawan teladanlah si Mas Budi itu, menurut semua orang.

Saya jadi bisa diskusi banyak dengan Mas Budi karena ternyata dia juga penggemar buku Harry Potter seperti saya dan seorang teman satu bimbingan skripsi.  Satu waktu, saya dan teman saya itu berniat meminjamkan edisi terbaru kisah Harry Potter kepada Mas Budi.  Awalnya, dia sudah terlihat antusias.  Namun, tiba-tiba dia spontan mengurungkan niatnya.  “Nanti aja deh pinjamnya.  Saya mau ujian akhir semester nih di kampus minggu depan,” katanya agak malu sambil menutup mukanya.  Dia seolah keceplosan saat mengucapkan kalimatnya barusan.

Arifin_mahasiswa_UPBJJ-UT_Bengkulu

Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Arifin, mahasiswa UT dari UPBJJ-UT Bengkulu ini tetap semangat dalam menempuh S1 di jurusan Administrasi Negara (Sumber Ilustrasi 2 : http://www.ut.ac.id/profil/hobi-berdiskusi-raih-ipk-memuaskan)

Kami pun terkejut sekaligus senang.  Jadi selama ini Mas Budi ternyata bekerja sekaligus kuliah? Setahu para mahasiswa – termasuk saya – Mas Budi itu tadinya bertugas sebagai petugas keamanan atau satpam kampus di gedung rektorat.  Kemampuannya mengoperasikan komputer mengubah nasibnya menjadi seorang staf administrasi di jurusan kami.  Asumsi kami sebelumnya, Mas Budi belum kuliah alias hanya lulusan SMU.

Teman saya yang lantas penasaran dengan kampus Mas Budi.  “Kuliah malam ya Mas? Atau kuliah Sabtu – Minggu? Di kampus mana?”, tanyanya senang. “Eh, itu! Hmm, kuliah di kampus di Pondok Cabe,” katanya masih (sok) berahasia.  “Kampus swasta kan? Apa namanya? Kalau di Jakarta, teman saya juga banyak yang kuliah di swasta, Mas,” sambung saya.  Mas Budi terlihat bingung, antara mau dan tidak mau untuk lebih lanjut membahasnya.

Tahu dua orang mahasiswi di depannya tidak akan berhenti bertanya sampai dia menjawab, akhirnya dia pun menyerah.  “Di UT.  Kampus negeri lho itu,” jawabnya sambil sekilas tersenyum.  “UT? PTN juga itu?” sambar saya segera.  “Ya. Universitas Terbuka itu universitas negeri,” ujar Mas Budi.  “Kuliahnya memang mandiri.  Enggak tiap hari harus kuliah di kelas karena ada bahan ajarnya yang bisa dibawa pulang,” jelasnya lagi.

Lha Mas Budi kan sudah lama lulus SMU.  Kok masih bisa masuk PTN?” giliran teman saya yang kebingungan.  “Eh, di UT itu memang kebanyakan mahasiswanya sudah kerja seperti saya.  Yo wis podho tuwo mahasiswane (ya sudah pada tua mahasiswanya – Bahasa Jawa) hehehehe…,” canda Mas Budi.  Kami tak membahasnya lebih lanjut.  Yang pasti, setahun kemudian, saat sudah memperoleh gelar SE (Sarjana Ekonomi) dari UT, Mas Budi naik jabatan menjadi Kepala Tata Usaha di jurusan.  Kami pun diundang ke acara syukurannya.

Pak Eddy

Pak Eddy Rinaldy sudah berusia hampir 60 tahun saat mengambil gelar Sarjana Ekonomi/SE di tahun 2011 di UT dan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan tepat waktu pada tahun 2015 (Sumber Ilustrasi 3 : http://makassar.ut.ac.id/index.php/component/content/article/22-alumni/224-belajar-sepanjang-hayat)

Kisah sukses lainnya dari alumni UT yang saya ketahui adalah seorang tetangga di komplek terdahulu.  Bu Tuti – kita panggil saja seperti itu – bekerja sebagai PNS pada salah satu lembaga negara yang mengurusi bidang keuangan di Jakarta.  Sama halnya seperti Mas Budi, Bu Tuti dulu juga memakai ijazah SMU saat mendaftar sebagai CPNS.  Ketekunan kerja dan kepintaran otaknya membuat karirnya terus meningkat di kantornya.

Lagi-lagi, masalah gelar akademis menghambat kemajuan promosi jabatannya.  Maka atasan Bu Tuti menginstruksikan agar dirinya mengambil S1.  Jelas kuliah S1 bukan hal yang mudah bagi Bu Tuti secara biaya, tenaga, dan waktu.  Bu Tuti saat itu sudah memiliki 3 orang anak dan sedang mengandung anak keempatnya.

Namun, beliau tak menyerah. Akhirnya UT menjadi pilihannya untuk melanjutkan kuliah.  Sempat beberapa kali Bu Tuti menitipkan kedua anaknya yang masih balita di rumah keluarga kami.  Saat itu, beliau harus ke kampus UT di Pondok Cabe untuk mengurus administrasi kuliah sedangkan asisten rumah tangganya masih di kampung halaman.

Hampir 6 tahun kemudian, Bu Tuti resmi menyandang gelar SE dari UT.  Uniknya lagi, selama masa kuliah S1 di FEKON – UT (Fakultas Ekonomi – Universitas Terbuka), beliau dikaruniai 2 orang anak lagi.  Jadi, total buah hatinya saat lulus UT adalah 6 orang, wow! Semakin salut karena beliau tidak mengambil cuti kuliah selama mengandung dan melahirkan.  Lulus dari UT, Bu Tuti diangkat menjadi kepala bagian yang membawahi keuangan daerah.  Keren ya?

2016-5-19_Willy_Suwandi_Dharma

Willy Suwandi Dharma, Presiden Direktur PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance, semakin meroket karirnya setelah meraih gelar SE dari UT di tahun 1992 (Sumber Ilustrasi 4 : http://www.ut.ac.id/profil/modal-utama-adalah-keinginan-untuk-berhasil)

Cerita sukses kedua orang yang mampu lulus UT saat usianya sudah tak muda lagi dan telah bekerja plus berumahtangga tersebut tentunya sangat layak untuk diapresiasi sekaligus dibagi.  Keinginan agar dapat kuliah di universitas negeri namun terhambat faktor usia dan keterbatasan waktu dapat teratasi dengan mengambil kuliah di UT.

Peran UT sebagai PTN ke-45 di Indonesia yang keberadaannya langsung berdasarkan Keputusan Presiden RI (Kepres) No. 41 Tahun 1984 memang dimaksudkan oleh Presiden Suharto untuk “melayani yang tak terlayani dan menjangkau yang tak terjangkau.”  Maka tak heran semboyan UT adalah “Membuka Akses Pendidikan Tinggi untuk Semua (Making Higher Education Open to All).”  Syukur Alhamdulillah, saya berkesempatan mewawancarai salah seorang dosen UT sekaligus Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) – UT Bandar Lampung, Dr. Rustam, M.Pd.  Wawancara via telepon terhadap Pak Rustam dilakukan di sela-sela kesibukan beliau setelah menghadiri Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) pada Minggu malam, 14 Agustus 2016.  Beliau menjawab beragam pertanyaan saya dengan lengkap dan jelas.

Hasil wawancara dengan Pak Rustam itu pun dapat disarikan ke dalam beberapa poin seperti di bawah ini untuk memudahkan para pembaca artikel blog ini.  Di tulisan kali ini, saya lebih banyak menyorot tentang UT sebagai kampus negeri yang tepat untuk kuliah bagi kaum pekerja dan profesional, orang lanjut usia, serta ibu rumah tangga.

_MG_0048

Dr. Rustam, M.Pd,. Kepala UPBJJ – UT Bandar Lampung, selaku narasumber penulisan artikel blog, telah seperempat abad menjadi dosen di UT (Sumber Ilustrasi 5 : http://lampung.ut.ac.id/index.php/artikel/3-artikel/168-seminar-akademik-upi-upbjj-ut-bandarlampung

UT membantu karir karyawan kantoran semakin meningkat pesat

            Bukti nyatanya adalah pengalaman dari dua orang PNS yaitu Mas Budi dan Bu Tuti.  Posisi pimpinan berhasil mereka raih setelah lulus UT. Sementara itu, kisah sukses pegawai swasta dialami oleh Willy Suwandi Dharma, Presiden Direktur (Presdir) PT Adira Finance.  Menurut Pak Rustam, UT juga memiliki banyak alumni yang juga asisten rumah tangga (domestic helper) – dikenal sebagai Buruh Migran Indonesia/BMI di Hongkong, Malaysia, dan Korea.

UT memfasilitasi program kuliah bagi senior citizen dan kaum difabel

            UT tidak mengenal batas usia maupun kondisi fisik bagi calon mahasiswanya.  Contohnya Pak Eddy Rinaldy, staf BI, yang sudah berusia 58 tahun.  Belajar, tak terkecuali kuliah, memang harus dilakukan sepanjang hayat.

clarissa_ayudara_pramuagari_saudi_arabia_ut_2015

Clarissa Ayudara, pramugari Saudi Arabian Airlines sejak tahun 2005, merupakan wisudawan dari Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) Layanan Luar Negeri
(Sumber Ilustrasi 6 : http://www.ut.ac.id/profil/tren-kuliah-sambil-bekerja-universitas-terbuka-makes-my-dream-come-true)

UT sangat tepat bagi ibu rumah tangga yang ingin berkuliah

            Kuliah mandiri di UT yang tak mewajibkan tatap muka dan kini dibantu dengan fasilitas kuliah online menjadi solusi bagi ibu rumah tangga.  Ibu Ani SBY adalah contoh istri tentara yang sukses meraih gelar sarjana dari UT.  Di mana ada kemauan, pasti ada jalan.  Ingin kuliah meskipun tak lagi muda dan bertenaga prima, maka UT adalah tempatnya.  Selamat ulang tahun UT ke-32.  Semoga UT semakin bermutu dalam membantu rakyat bertambah maju.

LOGO32-300x225

Selama 32 tahun, UT telah ikut serta dalam memajukan  rakyat Indonesia dengan sistem perkuliahan yang terbuka dan fleksibel bagi semua golongan warga (Sumber Ilustrasi 7 : http://www.ut.ac.id/2016/dies/lomba-blog/)

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Bacaan terkait lainnya :

Universitas Terbuka, 32 Tahun Melayani yang Tak Terlayani

Bersiap Kuliah? Baca Dulu David vs Goliath

Advertisements
This entry was published on August 18, 2016 at 3:59 pm. It’s filed under Blog Competition, Edukasi, Humaniora, Pendidikan and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: