Jogja, Romansa Indonesia yang Rapi Tertata

IMG_1483 cropped and smaller.jpg

Suasana Candi Prambanan di Jogja  – yang tersohor dengan kisah legenda Roro Jonggrang –  pada saat senja sebelum matahari terbenam
(Dokpri)

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama

Suasana Jogja


Di persimpangan langkahku terhenti

Ramai kaki lima

Menjajakan sajian khas berselera

Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi

Seiring laraku kehilanganmu

Merintih sendiri

Ditelan deru kotamu …


Walau kini kau t’lah tiada tak kembali

Namun kotamu hadirkan senyummu abadi

Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi

Bila hati mulai sepi tanpa terobati  (Jogjakarta – KLA Project)

Pemandangan alam Jogja yang menyihir mata

Jogja mulai mengena di hati saya sejak mendengar salah satu lagu favorit paman saya, “Jogjakarta” dari KLA Project.  Lagu itu seolah memiliki daya magis yang mengundang pendengarnya ke Jogja berulang kali.  Hingga saat ini, sudah tiga kali saya mengunjungi Jogja.

Pertama kali mendatangi Jogja, saya masih kelas 4 SD.  Seorang tetangga lama yang pindah ke Bantul mengajak liburan di rumahnya.  Sebagai anak dari Jakarta, gunung dan sawah hijau yang menghampar luas sepanjang mata memandang membuat saya tak hentinya terpana.

Biasanya saya melihat keindahan alam di Indonesia hanya dari layar TV.  Setelah melihatnya langsung di Jogja, ternyata jauh lebih indah, MasyaAllah.  Para petani dan kerbau yang sedang menggarap sawah semakin membuat saya terpesona dengan keindahan alam Jogja.

IMG_1147 cropped and smaller.jpg
Langit Kota Jogjakarta saat matahari terbit di pagi hari (Dokpri)

Kenangan tak terlupakan lainnya dari Jogja adalah suhu udaranya yang pas.  Menurut saya, Jogja memang tidak sesejuk Bogor (kota domisili saya saat ini).  Namun, Jogja juga tidak sepanas Jakarta.  Intinya, udara dan cuaca di Jogja itu memang asyik sekali untuk jalan-jalan.

Selain pemandangan dan suhunya, kuliner di Jogja juga meninggalkan kesan tersendiri di lidah saya.  Sebelumnya, es kelapa dengan gula merah sudah pernah saya cicipi di Jakarta.  Entah kenapa, rasanya jauuuh lebih segar saat meminumnya di sebuah warung makan di Bantul.

Sepulang dari sana, guru Bahasa Indonesia meminta kami menulis karangan tentang liburan.  Jelas saya menulis pengalaman berkesan di Bantul.  Syukur Alhamdulillah, karangan saya mendapat nilai tertinggi karena menurut guru saya, “Tulisan ini dibuat dengan sepenuh hati.”  Di penutup karangan itu, saya menulis, “Jogja membuat saya ingin selalu kembali, lagi dan lagi.”

Selain bakpia, thiwul juga termasuk oleh-oleh khas daerah Jogjakarta
(Dokpri)

Belajar “Legowo “ dari korban gempa Jogja

Setelah menjadi mahasiswi baru, saya kembali mengunjungi Jogja.  Namun, kali ini bukan untuk liburan, melainkan sebagai relawan.  Gempa bumi di Jogja tahun 2006 mengetuk hati saya untuk bergabung sebagai relawan dari kampus yang fokus pada pendidikan anak-anak pengungsi.

Saat SD dulu, saya pulang-pergi Jakarta – Jogja dengan kereta.  Kali ini, perjalanan ke Jogja ditempuh dengan bis kampus dari Bogor.  Sekalipun lebih lelah dengan bus, sepanjang jalan saya dan tim relawan tetap menikmati perjalanan dan tak sabar untuk bisa segera sampai Jogja.

Sebelum berangkat, tim relawan tentu sudah mendapat pengarahan.  Kami dipersiapkan untuk menghadapi kondisi mental korban gempa yang pastinya terguncang.  Berbagai kiat praktis sudah kami pelajari agar tetap tenang ketika berhadapan langsung dengan korban gempa.

IMG_1111 cropped and smaller.jpg
Gunungkidul, salah satu daerah ikonik dari Yogyakarta
(Dokpri)

Sesampainya di lokasi gempa, Jogja kembali mengejutkan kami.  Raut wajah para korban yang masih banyak menempati tenda darurat itu memang terlihat sedih dan lelah.  Ajaibnya, tak satupun dari mereka yang mengeluh, apalagi meratapi nasib, tak terkecuali para anak kecil.

Malah, mereka dengan ramah dan tangan terbuka menyambut kami.  Mayoritas korban tinggal di tenda darurat di sekitar rumah mereka yang telah roboh.  Saat hari masih terang, mereka membersihkan rumah dari reruntuhan dan puing gempa bersama tim relawan pria.

Adapun tim relawan putri, termasuk saya, bertugas di dapur umum.  Beberapa kali saya bertugas belanja ke pasar tradisional terdekat.  Tentu setelah gempa, isi pasar tak selengkap biasanya.  Meskipun begitu, tak ada pedagang yang menaikkan harga maupun menimbun barang.

IMG_1095 cropped and smaller.jpg
Pasar Piyungan, pasar tradisional yang berada di Bantul – Jogjakarta
(Dokpri)

Para pedagang di pasar, begitu tahu saya tim relawan, malah ada yang menggratiskan jualannya. “Mba’e tim relawan juga tho? Kalau gitu, (daun) bayem-nya dibawa aja semua, ini gratis.  Ndak usah dibayar,” ujar seorang ibu penjual sayur dengan senyum tulus mengembang.

Saya jelas jadi tak tega.  Lha wong, mereka kan juga termasuk korban gempa. Syukurlah saat itu, ada sehelai kaos tim relawan yang masih terbungkus plastik di dalam tas saya.  “Matur nuwun, Bu.  Ini ada kenang-kenangan kecil dari relawan.  Tolong diterima ya Bu,” pinta saya.

Beberapa kali, selesai memasak di dapur umum, saya ikut membantu relawan yang bertugas mengajar di sekolah darurat untuk para anak usia sekolah.  Kondisi gempa ternyata tak menyurutkan minat belajar mereka.  Bahkan mereka sering meminta PR sebelum pulang sekolah.

IMG_1130 cropped and smaller.jpg
Lalu lintas sepulang sekolah di Jogjakarta yang tertib dan rapi
(Dokpri)

Salutnya lagi, tak ada oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesulitan.  Relawan yang membantu pembangunan rumah darurat bercerita, “Kami takjub sebab tak pernah menemui ada korban gempa yang kemalingan. Padahal rumahnya sudah berhari-hari ditinggalkan lho.”

Di asrama tim relawan, kami pun jadi penasaran.  Bagaimana mungkin para korban gempa Jogja bisa tetap sabar dan tegar menghadapi musibah yang sedemikian hebat? Mereka seolah tak pernah kehabisan energi positif dan optimisme dalam menjalani hari-hari sulit pasca gempa.

Sebelum pulang, saat perpisahan, keingintahuan kami akhirnya terjawabkan.  Warga Jogja senantiasa berprinsip hidup yaitu “nrimo ing pandum” (sabar dan ikhlas) dalam menjalani kehidupan.  “Hidup itu mirip gelombang laut yang pasti naik-turun.  Kalau sedang pasang, jangan terlalu senang.  Waktu surut, ya jangan sampai terhanyut. Semuanya sudah digariskan oleh Gusti Allah,” tutur petuah kepala desa tempat kami bertugas sebagai relawan selama sebulan.

IMG_1505 cropped and smaller.jpg
Cemilan kue tradisional yang dijajakan saat pasar malam rakyat di Jogjakarta (Dokpri)

Kali ketiga penuh ceria ke Jogja

          Kali ketiga (bukan ‘Kali Kedua’-nya Raisa, sang calon manten hehehe…) saya kembali lagi ke Jogja dalam rangka liputan blog trip di tahun 2014.  Sebagai blogger, perjalanan ke Jogja selama 2 (dua) hari ini lebih cepat dan singkat karena pulang-pergi ditempuh dengan pesawat.

Sesampainya di bandara Adi Sutjipto, kesan hangat dan bersahabat langsung menyapa saya. “Feels at home,” begitu otomatis pikiran saya setibanya di Jogja.  Sekalipun harus menunggu cukup lama di bandara, saya bersama rombongan melewatkannya dengan bercanda.

Saat itu bandara juga sedang direnovasi untuk diperluas.  Namun, para petugas dan pengunjung bandara tetap bisa tertib dan rapi mengantri tanpa ingin menyerobot antrian.  Ah, prinsip alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selamat) memang nyata terjadi di Jogja.

IMG_1621 cropped and smaller.jpg
Akademi AU yang terletak di sekitar bandara Adi Sutjipto Jogjakarta
(Dokpri)

Bagi saya yang (terpaksa) terbiasa dengan kemacetan dan kesemrawutan jalan di Jabodetabek, lalu lintas yang padat merayap namun minus kebut-kebutan di Jogja benar-benar melegakan perjalanan.  Semua pengendara kendaraan bermotor berjajar rapi sesuai jalurnya.

Pengguna sepeda dan becak di Jogja pun bisa tenang bersepeda tanpa khawatir diklakson berulang kali oleh kendaraan yang lebih besar. Supir bus yang membawa rombongan blogger selalu sabar menunggu becak dan sepeda di depannya dan baru melaju setelah keduanya menepi.

Saya juga kagum dengan bangunan toko yang berjejer rapi di kanan-kiri jalan.  Seingat saya selama blog trip di Jogja, saya tidak menjumpai pedagang kaki lima yang berjualan dengan tak karuan sehingga membuat berantakan di pinggir jalan, termasuk di daerah pasar tradisional.

IMG_1100 cropped and smaller.jpg
Tak ada kebut-kebutan pengguna jalan raya di Jogjakarta
(Dokpri)

Saat meliput wisata alam Goa Pindul dan menyusuri Sungai Oya, tim blogger harus menaiki truk bak terbuka yang biasanya dipakai untuk mengangkut hewan ternak menuju lokasi.  Namun, lontaran humor dari pemandu wisata membuat semua penumpang bisa tertawa sepanjang jalan.

Sebelum ke Goa Pindul, saya menganggap wisata laut di Jogja identik dengan pantai, contohnya Pantai Parangtritis.  Ternyata Jogja – selain terkenal sebagai Kota Pelajar – juga menyimpan potensi tersembunyi wisata arkeologi yang luar biasa prospektif seperti Goa Pindul.

Pengelola wisata Goa Pindul dan Sungai Oya ini juga sukses memberdayakan ekonomi penduduk lokal.  Selain memandu wisata, tour guide di grup saya juga membiayai kuliahnya dengan bekerja di restoran.  Dia bercita-cita bisa membuka rumah makan di sekitar Goa Pindul.

046447400_1459166484-AADC__144_of_263_
Keindahan dan kerapihan Jogjakarta membuatnya menjadi lokasi reuni romansa tokoh ‘Rangga’ dan ‘Cinta’ dalam sinema ‘Ada Apa dengan Cinta 2’
(Sumber : showbiz.liputan6.com)

Keseruan lainnya selama blog trip di Jogja adalah kegiatan membatik.  Saya baru tahu di sana bahwa tidak semua motif batik dibuat dengan canting (batik tulis).  Untuk menekan harga jual, maka dibuatlah batik cap, cap tulis, dan yang paling banyak yaitu batik cetak (batik print).

Keceriaan blog trip di Jogja ditutup dengan makan malam di Candi Prambanan sambil ditemani pagelaran musik.  Salah satu candi Hindu yang termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO ini juga dikenal dengan legenda cintanya yaitu kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Jogja memang dapat membuat pengunjungnya selalu ingin datang lagi, bahkan setelah sekian lama tak bersua. Wajarlah jika Jogjakarta menjadi lokasi cerita bertemunya dua sejoli abadi dalam sinema Ada Apa dengan Cinta 2,   ‘Rangga’ dan ‘Cinta’ – yang telah terpisah belasan tahun.

IMG_1356 cropped and smaller
Belajar membatik di Jogjakarta mengajarkan banyak hal, terutama kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan
(Dokpri)

Kali keempat dan seterusnya ke Jogja kelak, saya berdo’a agar dapat menikmati waktu di Kota Gudeg tersebut bersama keluarga kecil tercinta karena menjadi Jogja menjadi Indonesia, Amin.  Pastinya, Jogja bagi saya adalah romansa Indonesia yang kenangannya selalu tertata rapi di hati hingga kapanpun nanti. #menjadijogjamenjadiindonesia

Silakan baca juga:

Serunya membatik di Sekar Kedhaton Yogya

Berbagi Cerita dan Tawa bersama Kompasianer dan JNE

Kenangan yang Unik dan Menarik dari Yogya #1

Waktunya Makan yang Unik dan Menarik di Yogya #2

Sabar di Jalan! Separuh Hati Tertinggal di Yogya #3

Bukti Indonesia Masih Ada dalam Film “Enam Djam di Jogja

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s