Mimpi Umi Para Mahasiswi Pergi ke Tanah Suci

Bu Rohmah atau Umi para mahasiswi di kost ini bercita-cita ke Tanah Suci dengan penghasilannya sebagai asisten rumah tangga (Dokpri)

Setiap muslim pasti bercita-cita beribadah haji dan umroh.  Perjalanan ke Mekah dan Madinah tersebut jelas memerlukan dana yang besar.   Sesuai lima isi Rukun Islam, hanya ibadah haji (dan juga umroh) yang pelaksanaannya disyaratkan “jika mampu.”

            Tak heran, tabungan haji dan umroh di Indonesia begitu diminati.  Biaya haji dan umroh senilai puluhan juta dalam jangka waktu tertentu dapat diangsur pelunasannya.  Setiap bulan, rekening gaji rutin dipotong untuk menyicil tabungan haji dan umroh pada bank yang dipilih.

            Namun, apakah semua orang mampu membuka dan memiliki tabungan haji dan umroh?  Bagaimana jika untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan?  Akankah niat suci untuk berhaji dan umroh lantas sebatas mimpi karena faktor keterbatasan ekonomi?

Tanpa diminta, Umi mengangkat jemuran anak kost terutama saat hujan turun tiba-tiba (Dokpri)

            Ada dua hal dalam hidup saya yang menunjukkan bahwa “selama ada kemauan, selalu ada jalan.” Tugas manusia adalah berdoa dan berusaha.  Hasilnya menjadi hak mutlak Allah swt Yang Maha Kuasa.  Memang benar pepatah “Manusia merencanakan, Tuhan menentukan.”

            Awal tahun 2016, saya sempat mengalami kesulitan ketika mencari kamar kost.  Kampus tempat saya mengajar berlokasi di Bogor.  Sementara itu, saya masih tinggal dengan orang tua di Tangerang.  Setiap hari, waktu pulang pergi Tangerang-Bogor menghabiskan 6 sampai 7 jam.

            Jadilah saya memilih untuk mencari kost sekitar kampus.  Ternyata, di awal tahun itu banyak kost yang masih penuh.  Umumnya, kost baru akan kosong di tengah tahun saat tahun ajaran baru.  Namun, satu malam seusai tahajjud, saya yakin bisa mendapatkan kamar kost.

Di usianya yang ke-63, Umi tetap semangat mencari nafkah yang halal dan berkah (Dokpri)

            Saya pun kembali menyusuri daerah terdekat dari kampus.  Masih ada tempat yang belum saya datangi.  Setelah 1 jam, saya tiba di depan satu rumah yang memasang plang di depan pagarnya “Kost muslimah.”  Bismillah, semoga berjodoh dengan ini karena dekat dengan masjid. 

            Seorang ibu separuh baya sedang menyapu halaman rumah ketika saya mengucapkan salam.  Seketika dia menjawab salam saya dan menghentikan pekerjaannya.  Sapu lidinya disandarkan ke pohon terdekat.  Saya pun mengulurkan tangan untuk menyalaminya. 

Kebersihan dapur kost selalu dijaga oleh Umi yang telah 17 tahun menjanda (Dokpri)

“Mau ketemu siapa, Neng?” tanyanya sambil tersenyum ramah. 

“Ini saya sedang cari kost.  Ada kamar kosong, Bu?” jawab saya.

“Oh, ada satu kamar yang masih kosong.  Duduk dulu, Neng.  Sebentar saya ambil dulu kuncinya,” katanya sambil menunjuk bangku teras.    

Saat kulkas kost rusak, Umi berinisiatif untuk langsung melaporkan ke ibu kost agar bisa segera diperbaiki (Dokpri)

Ibu itu memasuki pintu rumah di sampingnya.  Tak lama berselang, dirinya keluar dengan menggenggam setumpuk gantungan kunci.  “Ayo masuk.  Kamarnya ada di atas,” ajaknya.  Saya mengikutinya.  Ibu itu masih gesit bergerak sekalipun sudah tua dan bertubuh kurus kecil.

“Ini kamarnya.  Baru 2 minggu kosong, Neng,” ujarnya.

 “Dua hari sekali disapu supaya enggak berdebu,” jelasnya.

Kehadiran Umi membuat kost terasa semakin aman dan nyaman (Dokpri)

Kamar itu cukup rapi dan bersih meskipun tak luas. Singkat cerita, saya langsung menemui ibu pemilik kost untuk membayar uang muka kost. Alhamdhulillah, saya pun bisa bernafas lega.

Juli 2019 ini, berarti telah 3.5 tahun saya mengenal Bu Rohmah yang menyambut saya di halaman kost.  Profesinya sebagai asisten rumah tangga (ART) ternyata tak menyurutkan niatnya untuk bisa pergi haji.  Jika mimpi berhaji belum nyata, kenapa tidak berumroh dahulu saja?

Saat mahasiswi terburu-buru ke kampus setelah memasak, Umi tak segan-segan mencuci alat masak yang belum dibersihkan (Dokpri)

Sang Umi yang Mengayomi Para Mahasiswi

            Bu Rohmah (63 tahun) sudah 12 tahun bekerja sebagai ART di rumah pemilik kost dan rumah kedua putrinya yang mengapit rumah kost.  Umi, begitu biasa Bu Rohmah dipanggil oleh para mahasiswi yang menjadi anak kost, bertugas mengurus 4 rumah dalam 1 hari, wow!

            Dulu saat masih baru di kost, saya sempat bingung juga melihat beban kerja Umi yang sudah setua itu.  Di kost, memang tugasnya “hanya” menyapu, mengepel, dan membuang sampah.  Tapi, rumah kost tergolong besar sehingga membersihkannya pun perlu tenaga ekstra.

            Umi telah 17 tahun menjanda dengan 8 orang anak.  Putra bungsunya kini masih duduk di bangku SMK.  Ketujuh orang kakaknya hanya lulus SD atau SMP.  Umi dan almarhum suaminya (buruh bangunan) bahkan tidak lulus SD karena keterbatasan ekonomi orang tua mereka. 

Tumpukan sampah tak pernah mengganggu kost karena ada Umi yang rutin membuangnya (Dokpri)

“Anak bungsu Umi ini mau kerja kantoran, Neng,” ceritanya satu waktu. 

Kelima orang anak perempuan telah menikah selepas SD atau SMP.  Selain menjadi ibu rumahtangga, mereka bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di komplek perumahan terdekat dari kampung mereka.

Dua orang anak laki-laki Umi yang belum menikah bekerja sebagai buruh bangunan dan pembersih sekolah.  Tak mau bernasib sama seperti kakaknya, si bungsu berjuang agar bisa sekolah hingga lulus SMK.  “Dia mau Umi berhenti bekerja waktu dia sudah kerja,” ungkap Umi.

Meninggalkan jemuran di kost karena harus segera ke kampus tak pernah jadi masalah karena Umi rutin melipatnya setelah kering (Dokpri)

Ah, maka itulah Umi di usia tuanya tetap semangat bekerja keras demi pendidikan putra bungsunya.  Sampai 2 tahun lalu, Umi masih datang setiap hari untuk bekerja.  Namun, setelah mengalami kecelakaan, Umi hanya sanggup bekerja selama 3-4 hari setiap minggunya.

Kami, para mahasiswi sebagai anak kost, sempat bertanya-tanya setelah hampir seminggu Umi tidak datang ke kost.  Pikir kami, mungkin Umi sedang sakit di rumahnya.  Sebelumnya Umi pernah mengeluh, setiap musim hujan tiba, penyakitnya rematiknya mudah kambuh.

Setelah seminggu, ibu kost mengabarkan bahwa Umi ditabrak motor.  Esoknya, kami menjenguk Umi.  Rumahnya sederhana dan masih ada yang berlantaikan tanah.  Atapnya bahkan banyak yang bocor.  Meskipun begitu, Umi tetap menyuguhi kami dengan ubi yang baru direbus.

Meskipun menyeterika setumpuk pakaian, Umi tetap bersemangat bekerja untuk membiayai pendidikan putra bungsunya (Dokpri)

Kisah Umi, sepulang dari kost ba’da Ashar, Umi akan menaiki mobil angkot yang melewati kampungnya. Siapa sangka, Umi diserempet oleh sebuah motor mahasiswa yang akan menyalip angkot di depannya.  Tangan dan kaki Umi dan si mahasiswa penabraknya sama-sama terluka.

Namun, Umi menderita cedera kaki lebih parah.  Dirinya sampai tidak bisa berjalan dan harus berobat ke dokter puskesmas seminggu sekali selama 1 bulan setelah kecelakaan. Kami sempat bertanya,

“Mahasiswa (yang menabrak) itu ikut bantu biaya pengobatannya Umi kan?”

Jawab Umi sambil tersenyum, “Enggak. Umi kasian.  Mahasiswa itu orang jauh (luar Pulau Jawa).  Enggak apa-apa. Biar uangnya untuk kuliah dia aja.”    

“Anak Umi juga masih sekolah. Umi ngerti, duitnya anak sekolahan mah sedikit,” lanjutnya.  

Beribadah selalu dikerjakan Umi tepat waktu sekalipun setumpuk pekerjaan rumah telah menunggu (Dokpri)

Subhanallah, betapa pemaaf dan lapangnya hati Umi.  Anaknya sempat menuturkan, Umi memang dikenal sebagai sosok yang nrimo dan tidak suka merepotkan orang lain.  Seringnya Umi malah membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun, termasuk ke penghuni kost.

Tugas Umi di kost sesuai gaji yang diterimanya dari ibu kost adalah menyapu, mengepel, dan membuang sampah.  Tetapi, Umi rutin mencuci piring, mengangkat dan melipat jemuran milik anak kost.  Itu murni inisiatif Umi karena kami memang tidak pernah meminta Umi melakukannya.

Ketika fasilitas kost, seperti pintu kulkas rusak, Umi segera melaporkan ke ibu kost agar bisa lekas diperbaiki.  Saat anak kost sakit, Umi membuatkan teh manis dan memijat ringan.  Umi pun rutin berdoa agar kami sukses, banyak rezeki dan yang terpenting, enteng jodoh! Hehehe…

Asuransi syariah berbasis wakaf menjadi solusi untuk kesejahteraan individu, keluarga, dan umat (Ilustrasi: pixabay)

Maka, pada ucapan terima kasih dalam skripsi, tesis, dan disertasi anak kost, selalu tercantum ucapan terima kasih khusus untuk Umi.  Umi memperlakukan para anak kost layaknya seorang ibu ke anaknya.  Sayangnya, sebelum Ramadan tahun ini, Umi kehilangan ibunya.

Ibunda Umi meninggal karena sudah lama sakit.  Biaya pengobatan dan pemakamannya sebagian besar ditanggung Umi.  Padahal Umi satu-satunya yang berstatus janda di antara saudara-saudaranya.  Walaupun begitu, Umi merelakan diri merawat ibunda tercinta selama sakit.

“Bakti ke orang tua itu mah jangan tunggu kita kaya dulu, Neng” begitu prinsip Umi.

Pemberi wakaf (wakif) memperoleh pahala baik di dunia maupun di akhirat karena manfaatnya terus diterima umat bersama (Ilustrasi: Allianz Indonesia)

Kalimat (bijak) Umi itu begitu mengena untuk saya.  Selama ini, banyak mahasiswi dan pekerja (termasuk saya) tak keberatan menghabiskan uang untuk gaya hidup.  Tapi, kami otomatis jadi perhitungan saat akan membelikan sesuatu untuk orang tua.  Astaghfirullahaladzim!

Allah swt telah berfirman dalam kitab suci Al-Qur’an pada surat An-Nisa’ (4:36):

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36){

 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.S. An-Nisa’ ayat 36)

Asuransi Wakaf Allianz menyalurkan dana wakaf ke sejumlah badan pengelola wakaf yang resmi dan telah terpercaya di Indonesia antara lain Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar dan Dompet Dhuafa (Ilustrasi: Allianz Indonesia)

Mengacu kepada ayat di atas, selain kepada ibunya semasa masih hidup, Umi juga telah melakukan kebaikan kepada anak kost yang termasuk ibnu sabil.  Umi memang tak sampai lulus SD.  Namun, untuk praktek beragama sehari-hari, Umi bisa dijadikan teladan dalam keterbatasan.

Sekitar 2 minggu setelah wafatnya sang ibu, saya mendapati Umi menangis sesenggukan ketika menyeterika pakaian keluarga ibu kost.  Ternyata Umi teringat mendiang ibunya dan janji yang belum terlaksana.  Umi bercita-cita bisa memberangkatkan sang ibu ke Tanah Suci.

“Umi sedih karena ibu Umi enggak kesampaian haji,” ungkapnya.

“Kalau begitu, uang (tabungannya) untuk Umi haji saja,” saran saya.

“Masih kurang banyak, Neng.  Anak bungsu Umi janji, waktu sudah kerja setelah lulus SMK nanti, gajinya untuk menambah tabungan Umi.  Kalau sudah cukup, neneknya (Ibu Umi) bisa haji.”

Umi pun menyebutkan nominal tabungannya.  Jangankan untuk berhaji, jumlahnya pun masih jauh untuk berumroh.  Uang itu ditabungnya di bendahara pengajian ibu-ibu pada majelis taklim di masjid terdekat rumahnya.  Umi menabung sejak bekerja sebagai ART pada ibu kost.

Untuk membesarkan hati Umi, saya lalu mendoakan agar putra bungsunya bisa bekerja dengan penghasilan memadai seusai tamat SMK.  Sepengetahuan saya, Umi memang menaruh harapan besar pada putra bungsunya yang rajin belajar dan rutin sholat berjama’ah ke masjid.

“Ah, tapi umur orang mah siapa yang tau ya Neng,” kata Umi.

“Mana tau, Umi sudah dipanggil (meninggal) sebelum berhaji,” lanjutnya.

“Umi sudah pesen ke ibu bendahara pengajian, kalau Umi meninggal, tabungan Umi sebagian untuk pembangunan masjid.  InsyaAllah, untuk beli batu bata atau semen mah, cukuplah.  Tabungannya yang sebagian lagi untuk dibelikan kambing untuk diternakkan anak cucu Umi.  Bisa untuk dijual dan berkurban  Kalau warisan uang mah, cepet abis,” urainya.

“Kata pak kyai waktu pengajian, menyumbang masjid itu pahalanya terus ada sampai kita meninggal nanti.  Wakaf gitu ya Neng kalau enggak salah namanya? Maklum Umi udah tua jadi gampang lupa omongan kyainya,” seloroh Umi sambil mematikan alat seterikanya.

Udah jam 1 siang.  Umi sholat dulu ya Neng.”

“Ohya, Umi.  Saya juga mau mengajar ke kampus.  Assalamu’alaykum,” pamit saya.

“Wa’alaykumussalam.  Hati-hati ya Neng.  Yang selamet di jalan,” doanya.

Saat membayar premi asuransi syariah berbasis wakaf Allianz, pemilik asuransi otomatis memperoleh manfaat perlindungan masa depan di dunia dan “tabungan” pahala sedekah jariah di akhirat (Ilustrasi: Allianz Indonesia)

Asuransi Allianz Mendukung Orangtua Berhaji

            Sepanjang perjalanan menuju kampus siang itu, saya semakin mengagumi sosok Umi yang sederhana nan bijak.  Dirinya telah mempraktekkan prinsip asuransi untuk anak cucunya dan wakaf untuk umat.  Asuransi pula yang membuat Ibu saya bisa berhaji bersama Bapak.

            Sekitar 5 tahun menjelang pensiun, Bapak saya mendapatkan jatah pergi haji gratis dari kantornya.  Ibu turut berhaji dengan dana pribadi.  Waktu itu, bulan haji berlangsung dari bulan Desember hingga Januari.  Tanpa diduga, Ibu terkena diabetes dan dirawat inap pada bulan Juni.

            Bulan Juni-Juli merupakan bulan pembayaran sekolah dan kuliah.  Saya sudah kuliah S1, adik saya akan masuk kuliah, SMA, dan SMP.  Keempat anak Bapak dan Ibu sedang memerlukan dana pendidikan yang besar dalam waktu berbarengan saat Ibu harus masuk rumah sakit.

            Ibu sempat merelakan tabungan hajinya dipakai untuk menutupi biaya pendidikan keempat buah hatinya.  Beliau ikhlas untuk pergi haji tak bersama Bapak.  Namun, Bapak ingin tetap bisa ke Tanah Suci bersama Ibu.  Bapak bahkan sudah berencana menjual sawah keluarga di desa.

            Syukur Alhamdhulillah, tanpa menjual sawah, Bapak dan Ibu akhirnya bisa berhaji bersamaan.  Itu karena kantor Bapak menggunakan asuransi kesehatan Allianz bagi para pegawai dan keluarganya.  Bapak hanya perlu menambah sedikit untuk biaya obat-obatan Ibu.

            Asuransi Allianz jelas memiliki kenangan manis bagi keluarga saya.  Setelah mengetahui adanya Asuransi Wakaf dari Allianz, hati saya semakin tergerak untuk bisa memiliki ketenangan di dunia dan di akhirat dengan pemanfaatan harta yang berkah seperti halnya inspirasi dari Umi.

Inilah ilustrasi dari perhitungan sinergi antara wakaf dengan instrumen asuransi syariah dari Allianz yang menawarkan kebaikan dunia akhirat dalam jangka panjang (Ilustrasi: Allianz Indonesia)

Fitur Wakaf Bermanfaat Hingga Negeri Akhirat    

 Tak sedikit rekan kerja saya mengajar di kampus adalah alumni Universitas Al-Azhar Mesir.  Pengelolaan salah satu universitas Islam terbaik dan tertua di dunia itu ternyata berasal dari dana wakaf umat.  Di Indonesia, Pondok Pesantren Darunnajah juga berasal dari harta wakaf.

Maka itulah, asuransi wakaf Allianz dapat menjadi solusi keberkahan di dunia dan akhirat (menjadi penghuni surga) bagi anggota keluarga sekaligus umat.  Prinsip dan tujuan asuransi syariah (takaful) maupun wakaf yaitu sama-sama untuk saling menolong dan membantu meringankan beban sehingga tercapai kesejahteraan bersama sesuai surat Ali Imran (3:92):

{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (92) }

“Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Q.S. Ali Imran ayat 92)

Ahli tafsir menyebutkan bahwa arti “kebajikan yang sempurna” tersebut adalah diterima di surga.  Islam mewajibkan umatnya untuk mengurus keluarga dan memperhatikan masyarakat sekitarnya dengan baik sehingga menghasilkan generasi muslim yang kuat dan bermartabat.

Asuransi syariah akan melindungi seisi keluarga ketika suatu waktu mendadak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semisal sakit, kecelakaan, hingga kematian.  Di saat bersamaan, wakaf berbentuk uang dapat dikelola oleh badan pengelola wakaf (nazhir) untuk pemberdayaan umat.     

Patut diingat bagi seorang muslim, mewakafkan hartanya tidak akan mengurangi hartanya sedikitpun.  Sebaliknya, Allah swt melipatgandakan harta yang telah diwakafkan, baik di dunia maupun di akhirat, seperti tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2:261):

{مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261) }

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 261)

Rumah Wakaf juga turut menjadi nazhir untuk Asuransi Wakaf Allianz (Ilustrasi: http://www.rumahwakaf.org)

            Menurut seorang pakar Asuransi Syariah dan Humas Badan Wakaf Indonesia (BWI) Ir. Muhammad Syakir Sula, AAIJ, FIIS., dalam artikelnya yang berjudul “Sinergi Wakaf dengan Instrumen Asuransi Syariah”, ada 3 manfaat dari asuransi syariah berbasis wakaf.  Secara garis besar, ketiganya yaitu:

            Pertama, dana wakaf yang terkumpul di perusahaan asuransi syariah akan terus bertambah karena dana wakaf bersifat abadi dan dapat diinvestasikan dalam bentuk wakaf produktif sehingga baik perusahaan asuransi maupun umat sama-sama memperoleh keuntungan;

            Kedua, peserta asuransi syariah berbasis wakaf otomatis menjadi wakif (pemberi wakaf) yang mendapat manfaat dunia akhirat saat membayar premi asuransi karena saling menolong di dunia sekaligus sebagai pahala shadaqah jariah yang terus mengalir sekalipun wakif telah wafat;

            Ketiga, ahli waris dari pemilik takaful (asuransi syariah) berbasis wakaf memperoleh manfaat berlipat ganda dalam jangka panjang dari asuransi (perlindungan masa depan) sekaligus wakaf produktif (masjid, rumah sakit, sekolah) yang bisa digunakan keluarga maupun umat.

Semoga senyum bahagia Umi ketika menerima sumbangan “THR” Lebaran dari mahasiswi penghuni kost dapat segera terulang lagi ketika berhasil berangkat umroh dari berlipatnya berkah Asuransi Wakaf Allianz, Amiin YRA 🙂

            Nah, bagaimana? Semakin yakin kan untuk segera memiliki asuransi wakaf Allianz? Dana asuransi sekaligus wakaf kita dapat disalurkan ke badan pengelola wakaf yang telah terpercaya di Indonesia antara lain Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar, Dompet Dhuafa, dan Rumah Wakaf.    Sejatinya, sesama muslim ibarat fungsi satu tubuh yang saling mendukung untuk berlipatnya berkah di dunia dan akhirat. Selain rencana untuk membantu pendidikan putra bungsu Umi hingga lulus kuliah S1 agar memperoleh pekerjaan yang layak, semoga ikhtiar sederhana ini mampu menjadi wasilah (perantara) untuk Umi berumroh ke Tanah Suci, Aamiin YRA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s